Sukseskan "SABANG FAIR FESTIVAL 2014" Tanggal 18 s/d 24 Juni 2014.
Yang akan dimeriahkan oleh sejumlah kegiatan, seperti pameran industri kreatif, festival seni dan budaya serta berbagai kegiatan lainnya.

[ Disbudpar Kota Sabang ].

Sunday, April 6, 2014

BANDA ACEH KOTANYA PARA RAJA


Sedikit sejarah tentang Kota Banda Aceh.
Setelah masuk dalam pangkuan Pemerintah Republik Indonesia, baru sejak 28 Desember 1962 nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh. Ini berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43. Sebelumnya, daerah ini masih menyandang nama Kuta Raja, nama Kuta Raja diproklamirkan oleh Gubernur Hindia Belanda Van Swieten. Pergantian nama itu dilakukan pada 24 Januari 1874 setelah Belanda berhasil menduduki istana setelah jatuhnya kesultanan Aceh.

Kutaraja didirikan Belanda adalah sebagai langkah awal Belanda dari usaha penghapusan dan penghancuran kegemilangan Kerajaaan Aceh Darussalam. Pergantian nama itu kemudian disahkan oleh Gubernur Jenderal di Batavia dengan beslit yang bertanggal 16 Maret 1874.

Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 1983 tentang perubahan batas wilayah Banda Aceh, luas wilayah menjadi 61,36 Km2 yang dibagi ke dalam empat kecamatan, yaitu: Kecamatan Kuta Alam, Kecamatan Baiturrahman, Kecamatan Meuraxa, dan Kecamatan Syiah Kuala.Pada tahun 2000 sejumlah kecamatan kembali dimekarkan, sesuai Peraturan Daerah Kota Banda Aceh Nomor 8 Tahun 2000. Kecamatan bertambah lagi menjadi 5 kecamatan sehingga seluruhnya menjadi 9 kecamatan, yaitu Kecamatan Kuta Alam, Kecamatan Baiturrahman, Kecamatan Meuraxa,, Kecamatan Banda Raya, Kecamatan Jaya Baru, Kecamatan Ulee Kareng, Kecamatan Kuta Raja, dan Kecamatan Lueng Bata, Kecamatan Syiah Kuala.

Selain sebagai pusat pemerintahan kota Banda Aceh, juga menjadi pusat segala kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Menurut catatan sejarah, dikutip dari berbagai sumber seperti situs wikipedia.org, Banda Aceh sebagai ibukota Kesultanan Aceh Darussalam lahir ketika Kerajaan Samudera Pasai sedang berada di ambang keruntuhan. Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang pernah ada sebelumnya, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura (Indrapuri).

Dari batu nisan Sultan Firman Syah, salah seorang sultan yang pernah memerintah Kesultanan Aceh, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribukota di Kutaraja. Pendiri sekaligus penguasa pertama Kesultanan Aceh adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada Ahad, 1 Jumadil Awal 913 Hijriah atau tanggal 8 September 1507 Masehi.Keterangan mengenai keberadaaan Kesultanan Aceh Darussalam semakin terkuak dengan ditemukannya batu nisan yang ternyata adalah makam Sultan Ali Mughayat Syah. Di batu nisan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam yang berada di Kandang XII Banda Aceh ini, disebutkan bahwa Sultan Ali Mughayat Syah meninggal dunia pada 12 Dzulhijah tahun 936 Hijriah atau pada 7 Agustus 1530.

Selain itu, ditemukan juga batu nisan lain di Kuta Alam, yang merupakan makam ayah Sultan Ali Mughayat Syah, yaitu Syamsu Syah, yang menyebutkan, bahwa Syamsu Syah wafat pada 14 Muharram 737 Hijriah. Sebuah batu nisan lagi yang ditemukan di Kuta Alam adalah makam Raja Ibrahim yang kemudian diketahui bahwa ia adalah adik dari Sultan Ali Mughayat Syah.

Sultan Iskandar Muda menjadikan Banda Aceh sebagai taman dunia, yang dimulai dari komplek istana. Komplek istana Kesultanan Aceh juga dinamai Dar’ad-Dunnia (Taman Dunia). Kitab Bustanus Salatin yang diselesaikan oleh Nuruddin Ar-Raniry pada tahun 1636 menyebutkan bahwa bagian timur Istana Aceh merupakan taman yang sangat luas. Di tengah taman tersebut telah diperintahkan untuk digali sungai yang dibina menjadi tempat pemandian, dengan tebing yang diturap dengan batu dan memiliki bejana-bejana pancuran air.

Di dalam taman tersebut terdapat 4 monumen:
  1. bangunan berarsitektur Cina yang dibangun para ahli dari Cina dan dinamai Balai Rekaan Cina sebagai simbol hubungan khusus antara Kesultanan Aceh dengan Kekaisaran Cina,
  2. bangunan perjamuan makan untuk pada tamu kenegaraan yang dinamai Balai Gading,
  3. Balai Kembang Cahaya,
  4. Balai Keemasan untuk peristirahatan. Sayangnya kesemua bangunan ini diperkirakan dijarah saat agresi Belanda.
Bagian tengah dari taman tersebut adalah sebuah monumen berbentuk gunung yang saat ini dikenal dengan nama Gunongan dengan tinggi 9,5 meter, berbentuk bunga tiga tingkat, yang memiliki pintu seperti gua. Di sisinya terdapat sebuah batu berukir dengan motif arabesque di tepi sungai tempat putri mencuci rambut (dinamakan batu peterana Kembang Lela Mashadi).

Naskah Bustanus Salatin juga menyebutkan bahwa di dalam taman dan di dekat sungai tersebut terdapat sebuah monumen berukir kembang seroja dan berwarna nila untuk pelantikan Sultan yang dinamai Peterana Kembang Seroja. Gerbang memasuki taman tersebut dinamakan masyarakat dengan nama Pinto Khob.

Bangunan pintu Khop dibuat dari bahan kapur dengan rongga sebagai pintu dan langit-langit berbentuk busur untuk dilalui dengan arah timur dan barat. Bagian atas pintu masuk berhiaskan dua tangkai daun yang disilang, sehingga menimbulkan fantasi (efek) stiliran figur wajah dengan mata dan hidung serta rongga pintu sebagai mulut. Taman ini disebutkan juga ditanami oleh pohon-pohon peneduh dan beragam bunga yang terus memberikan aroma wangi.

Pemimpin terbesar Kesultanan Aceh Darussalam, Sultan Iskandar Muda, akhirnya meninggal dunia pada 28 Rajab 1046 Hijiriah atau 27 Desember 1636 Masehi, dalam usia yang relatif masih muda, 46 tahun. Iskandar Muda dikuburkan dalam komplek istana Darud Donya, yang kini berada di sisi kiri Pendopo Gubernur Aceh. Bukti – bukti peninggalan tersebut masih ada hingga sekarang.

Setelah era kebesaran Sultan Iskandar Muda berakhir, Aceh mulai terlibat konflik dengan Belanda dan Inggris. Pada 26 Maret 1873, Belanda secara resmi menyatakan perang terhadap Aceh. Dalam perang tersebut, Belanda gagal menaklukkan Aceh dan untuk pertama kali dalam sejarah nusantara, seorang pimpinan perang Belanda gugur di tangan pribumi. Pada 1883, 1892 dan 1893, perang kembali meletus, namun, Belanda hanya dapat menguasai dan mengamankan Banda Aceh untuk kepentingannya.

Bila kita berbincang mengenai wisata yang menyimpan sejarah tentang Aceh, ada beberapa tempat yang menunjukkan bukti kebenaran sejarah itu. Dalam tulisan ini setidaknya ada 8 tempat yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Menanggapi hal itu pihak pemerintah khususnya bidang pariwisata perlu melakukan pembangunan, pembenahan, dan perawatan untuk memajukan wisata Aceh. Tempat-tempat yang bersejarah tersebut adalah :

  • Masjid Raya Baiturrahman
Masjid ini merupakan saksi bisu sejarah Aceh, terletak di pusat kota Banda Aceh dan merupakan kebanggaan masyarakat Aceh. Masjid Raya Baiturrahman adalah simbol religius, keberanian dan nasionalisme rakyat Aceh. Masjid ini dibangun pada masa Sultan  Iskandar Muda (1607-1636), dan merupakan pusat pendidikan ilmu agama di  Nusantara. Pada saat itu banyak pelajar dari Nusantara, bahkan dari Arab,  Turki, India, dan Parsi yang datang ke Aceh untuk menuntut ilmu agama. Mesjid ini  merupakan markas pertahanan rakyat Aceh ketika berperang dengan Belanda  (1873-1904). Pada saat terjadi Perang Aceh pada tahun 1873, masjid ini dibakar  habis oleh tentara Belanda. Pada saat itu, Mayjen Khohler tewas tertembak di  dahi oleh pasukan Aceh di pekarangan Masjid Raya. Untuk mengenang peristiwa  tersebut, dibangun sebuah monumen kecil di depan sebelah kiri Masjid Raya,  tepatnya di bawah pohon ketapang. Enam tahun kemudian, untuk meredam kemarahan  rakyat Aceh, pihak Belanda melalui Gubernur Jenderal Van Lansnerge membangun  kembali Masjid Raya ini dengan peletakan batu pertamanya pada tahun 1879. Hingga  saat ini Masjid Raya telah mengalami lima kali renovasi dan perluasan  (1879-1993).
 
  • Pinto Khop
Dibangun Pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Pinto Khop merupakan pintu penghubung antara Istana dan Taman Putroe Phang. Pinto Khop ini merupakan pintu gerbang berbentuk kubah. Pintu Khop ini merupakan tempat beristirahat Putri Phang, setelah lelah berenang, letaknya tidak jauh dari Gunongan, disanalah dayang-dayang membasuh rambut sang permaisuri. Disana juga terdapat kolam untuk sang permaisuri mandi bunga. Ditempat itu pula oleh Sultan dibangun sebuah perpustakaan dan menjadi tempat sang permaisuri serta Sultan menghabiskan waktu sambil membaca buku selepas berenang, keramas dan mandi bunga.

Pinto Khop adalah Taman yang dibuat oleh Sultan Iskandar Muda untuk Putri Pahang. Putri Pahang  adalah Istri raja Pahang yang sangat cantik. Karena ada sengketa dikerajaan pahang maka putri pahang diberikan kepada Sultan Iskandar Muda untuk dijadikan Istri, sebagai persembahan untuk kesenangan putri dibuatlah taman tersebut,Terdapat juga bangunan yang disebut Gunongan saat setelah selesai dibuat kemudian dikapur putih oleh penduduk dengan jalan tiap tiap penduduk datang kesitu untuk mencalitkan kapur yang dibawa oleh calitan jarinya, masing masing “Saboh Cilet” atau satu calit.

  • Gunongan
Gunongan merupakan simbol dan kekuatan cinta  Sultan Iskandar Muda kepada permaisurinya yang cantik jelita, Putri Phang (Putroe Phang) yang berasal dari Pahang, Malaysia. Alkisah, Putroe Phang sering merasa kesepian di tengah kesibukan  sang suami sebagai kepala pemerintahan. Ia selalu teringat dengan kampung  halamannya di Pahang. Sang suami memahami kegundahan permaisurinya. Untuk  membahagiakan sang permaisuri, ia membangun sebuah gunung kecil (Gunongan)  sebagai miniatur perbukitan yang mengelilingi istana Putroe Phang di  Pahang. Setelah Gunongan selesai dibangun, betapa bahagianya sang permaisuri. Hari-harinya banyak dihabiskan dengan bermain bersama dayang-dayang di sekitar  Gunongan, sambil memanjatinya. Gunongan terletak di Jalan Teuku Umara berhadapan  dengan lokasi perkuburan serdadu Belanda (Kerkoff).

Gunongan  ini dibangun pada Abad ke-17 ini, Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607-1636. Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kesultanan Johor dan Kesultanan Pahang di Semenanjung Malaka. Putri Kerajaan yang di bawa oleh Sultan Iskandar Muda dari Pahang yang sangat cantik parasnya dan halus budi bahasanya, Membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan menjadikannya sebagai permaisuri. Demi cintanya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda bersedia memenuhi keinginan permaisurinya untuk membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan Gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan ditempat asalnya terpenuhi.

  • Taman Sari
Taman Sari merupakan tempat bermain yang ramai dikunjungi oleh masyarakat dengan lokasi yang berada tidak jauh dari Mesjid Raya Kota Banda Aceh, Taman Sari merupakan salah satu tempat favorit di Kota Banda Aceh dengan fasilitas yang tersedia antara lain : mempunyai taman yang luas dan tertata rapi dengan aneka permainan gratis bagi anak-anak dan juga tersedia hot spot gratis sehingga setiap orang dapat mengakses internet serta di dukung oleh bangunan gedung untuk menunjang tempat ini sebagai pusat kegiatan masyarakat.

  • Rumoh Aceh
Museum dan Rumah Adat Aceh. Kota Banda Aceh memiliki sebuah Museum Negeri yang terletak di kompleks. Museum dari bangunan utama dari rumah tradisional Aceh, yang dibangun pada tahun 1914 untuk Pameran Venues di Semarang, yang kemudian dibawa kembali ke Banda Aceh pada tahun 1915 oleh Gubernur Van Swart (Belanda), yang kemudian membuat Museum. Rumoh Aceh merupakan rumah panggung pintu sempit, tetapi di dalam ruangan tidak terisolasi. Banyak peninggalan Kerajaan aceh masih tersimpan rapi di museum.

Saat ini Museum Negeri Aceh merupakan museum yang dikelola oleh Pemerintah dan sebagai tempat penyimpanan berbagai benda bersejarah, baik dari masa kerajaan hingga masa kemerdekaan. Koleksi yang ada di museum ini antara lain: Stempel Kerajaan Aceh, Replika Makam Malikul Saleh, naskah kuno, Mata Uang Kerajaan Aceh dan lain-lain.
Koleksi penting lain yang berada di museum ini adalah Lonceng Cakra Donya. Mengenai keberadaan Lonceng Cakra Donya terdapat beberapa versi. Salah satunya, berdasarkan angka tahun yang terdapat di bagian atasnya dapat diketahui bahwa Lonceng ini merupakan hadiah dari Kaisar Cina kepada Sultan Aceh dalam rangka mengikat persahabatan. Menurut Kremer dalam bukunya Aceh I bahwa Lonceng Cakra Donya ini telah dibuat dalam tahun 1469. Lonceng ini berukuran lebih kurang 1,25 meter tinggi dan mempunyai lebar 0,75 meter. Pada tanggal 2 Desember 1915 pada masa Gubernur H.N.A Swart menguasai istana kerajaan memberi perintah untuk menurunkan lonceng dari Pohon Ba’glondong karena khawatir pohon tersebut patah dan lonceng akan rusak, sehingga lonceng itu diletakkan di tanah. Lonceng itu diturunkan oleh orang-orang Cina, karena orang menganggap lonceng tersebut berhantu.
  • Pesawat  RI - 001
Pesawat Seulawah yang dikenal RI-1 dan RI-2 merupakan bukti nyata dukungan yang diberikan masyarakat Aceh dalam proses perjalanan Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya, Pesawat Seulawah yang menjadi cikal bakal Maskapai Garuda Indonesia Airways disumbangkan melalui pengumpulan harta pribadi masyarakat dan saudagar aceh sehingga Presiden Soekarno menyebut "Daerah Aceh adalah Daerah Modal bagi Republik Indonesia, dan melalui perjuangan rakyat aceh seluruh Wilayah Republik Indonesia dapat direbut kembali".

Pesawat Seulawah dibeli dengan harga US$120.000 dengan kurs pada saat itu atau kira-kira 25 Kg emas dan untuk mengenang jasa masyarakat aceh tersebut maka di buat replika pesawat seulawah yang berada di Lapangan Blang Padang Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh.

  • Makam Sulthan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda merupakan tokoh penting dalam sejarah Aceh. Aceh pernah mengalami masa kejayaan, kala Sultan memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1607-1636 ia mampu menempatkan kerajaan Islam Aceh di peringkat kelima di antara kerajaan terbesar Islam di dunia pada abad ke 16. Saat itu Banda Aceh yang merupakan pusat Kerajaan Aceh, menjadi kawasan bandar perniagaan yang ramai karena berhubungan dagang dengan dunia internasional, terutama kawasan Nusantara di mana Selat Malaka merupakan jalur lalu lintas pelayaran kapal-kapal niaga asing untuk mengangkut hasil bumi Asia ke Eropa. Beliau bisa bertindak adil, bahkan terhadap anak kandungnya. Dikisahkan, Sultan memiliki dua orang putera/puteri. Salah satunya bernama Meurah Pupok yang gemar pacuan kuda.Tetapi buruk laku Meurah, dia tertangkap basah sedang berselingkuh dengan isteri orang. Yang menangkap sang suami, di rumahnya sendiri pula. Sang suami mencabut rencong, ditusukkannya ke tubuh sang isteri yang serong. Sang suami kemudian melaporkan langsung kepada Sultan, dan setelah itu di depan rajanya sang suami kemudian berharakiri (bunuh diri) Sultan, yang oleh rakyatnya dihormati sebagai raja bijaksana dan adil, jadi berang. Meurah Pupok disusulnya di gelanggang pacuan kuda dan dipancungnya (dibunuh) sendiri di depan umum. Maka timbullah ucapan kebanggaan orang Aceh: Adat bak Po Temeuruhoom, Hukom bak Syiah Kuala. Adat dipelihara Sultan Iskandar Muda, sedang pelaksanaan hukum atau agama di bawah pertimbangan Syiah Kuala. Murah Pupok dikuburkan di kompleks pekuburan tentara Belanda yang terkenal dengan nama "KerKhoff Peutjoet".

  • Kerkoff Peucut
Kerkoff berasal dari  bahasa Belanda yang berarti kuburan, sedangkan Peutjoet atau asal kata dari Pocut (putra kesayangan) Sultan Iskandar Muda yang dihukum oleh ayahnya sendiri (Sultan Iskandar Muda) karena melakukan kesalahan fatal dan dimakamkan di tengah-tengan perkuburan ini.
Pada relief dinding gerbang makam tertulis  nama-nama serdadu Belanda yang meninggal dalam pertempuran dengan masyarakat  Aceh (setiap relief ada 30 nama); daerah pertempuran, seperti di Sigli, Moekim,  Tjot Basetoel, Lambari en Teunom, Kandang, Toeanko, Lambesoi, Koewala, Tjot  Rang - Pajaoe, Lepong Ara, Oleh Karang – Dango, dan Samalanga); dan tahun  meninggal para serdadu (1873-1910). Sekitar 2200 tentara Belanda termasuk 4 jenderalnya sejak tahun 1883 hingga 1940an dikuburkan di sini. Di antara para serdadu Belanda tersebut ada  beberapa nama prajurit Marsose yang berasal dari Ambon, Manado dan Jawa. Para prajurit Marsose yang berasal  dari Jawa ditandai dengan identitas IF (inlander fuselier) di belakang  namanya, prajurit dari Ambon dengan tanda AMB, prajurit dari Manado dengan tanda MND, dan serdadu Belanda  dengan tanda EF/ F. Art.

12 comments:

  1. Sherly12/4/14

    Banda Aceh emang gak kalah indahnya ama kota laen, terutama wisatanya. :)

    ReplyDelete
  2. Koeta Radja mank pas buat Banda Aceh. jangan lupa mampir kemari ya : http://charmingaceh.blogspot.com/2014/04/jangan-ke-banda-aceh.html

    ReplyDelete
  3. Mantap Banget Tulisan ya.
    Destinasi Lengkap Aceh cuma Ada di : http://acehplanet.com/

    ReplyDelete
  4. Bagus artikel nya, jangan lupa mampir kemari ya : http://bandaacehvisit.blogspot.com/2014/04/banda-aceh-icon-para-cendekia-aceh.html

    ReplyDelete
  5. Postingan ini mengingatkan saya pada masa-masa kejayaan Aceh , kita sebagai generasi penerus Aceh harus menunjukkan kokohnya Nanggroe Aceh ini dalam kebudayaan,parawisata, pembangunan daerah, perekonomian, dan tanoh seuramo mekkah yang bersyariat Islam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank's,,
      semoga Aceh bisa kembali jaya seperti masa kerajaan dulu..
      Aamiin... :)

      Delete
  6. mantap, jangan lupa mampir juga ya ke bloger kami: http://informasi-syarif.blogspot.com/2014/03/hutan-kota-icon-paru-paru-serambi-mekkah.html

    ReplyDelete
  7. Undangan Menjadi Peserta Lomba Review Website berhadiah 30 Juta.

    Selamat Siang, setelah kami memperhatikan kualitas tulisan di Blog ini.
    Kami akan senang sekali, jika Blog ini berkenan mengikuti Lomba review
    Websitedari babastudio.

    Untuk Lebih jelas dan detail mohon kunjungi http://www.babastudio.com/review2014


    Salam
    Baba Studio

    ReplyDelete